Aku Rindu

Laksana kanal
Kutuang kata lewat pena
Agar rindu mengalir
Menulislah semampu tangan
Semampu bahasa

Secarik kertas pun bersaksi
Merelakan bait-bait pengobat rindu
Agar rindu beranjak
Ia siap dijamah
Maka kububuhi kau dengan rasa

Di tanah yang berbeda
Aku dihantam rindu
Terbayang olehku raut tanpa lelah
Berjuang demi kami untuk hidup
Kehampaan patah tatkala kuingat kasihmu
Nasehatmu tenangkan risau
Rimbun cintamu sejukkan hati
Keluhuranmu menuntun baik

Tuhan…
Kesanggupanku berkata
Hanya keyakinan dalam doa
Kumohon pinta
Perlindungan untuknya setiap saat

Karena kata tak mampu melunasi
Balas budi takkan terganti
Kusudahi semampu tangan, semampu bahasa
Kiranya rindu mengalir
Do’aku sampai
Padamu aku rindu, Ibu

Bandung, 22 Desember 2011
Didedikasikan untuk Mamakku, orang yang kini masih berjuang tanpa lelah untuk kami demi hidup: SELAMAT HARI IBU


Yang Ku Ingin

Terbentur oleh kesempurnaan
Pada aturan yang kompleks
Pada mereka yang kutak tahu anasirnya
Aku merasa dikekang, diperintah
Aku dibawah bayang-bayang

Pada kontemplasi hening
Aku masih berfikir
Mencari penyebab
Kenapa hanya keinginan yang memuncak
Sedang amalan urung

Sederhana..
Itulah yang kuinginkan
Tapi riaknya menggetarkan

Tak perlu bermewah-mewah
Tulus dan jujur
Namun berirama
Hingga pena kembali terayun dalam kertas yang t’lah lama terlupa

 

Bandung, 19 September 2011


Kala Malam

Kalanya transisi
Terik usai di penghujung
Awan berduyun melangkah pulang
Bernyanyi senja menjemput malam

Waktu…
Menggugat eksistensi
Kembali mengkaji diri

Lumpuhlah kata karena sikap
Tersabur makna diantaranya
Ada yg lupa kutangkap
Namun masih menghidang, membanjiri
Kelak akal akan tahu
Kalahkan semua resah

Aku menggugat
Beradu di kancah malam
Menyingkap tabir
Meramu malam

Oh Tuan Kota
Beri aku ruang
Memaknai kisah malam
Melahap hidangan

Bandung, 10 Agustus 2011


Syair yang Masih Bermakna

Hanya sekedar mengingat
Walau bukan wujud
Hadirmu masih hangat

Masih saja mewangi
Kau tetap mengisi
Kau syair yang bermakna
Tetap ada, entah sampai kapan sirna

Sifatmu aku rindu
Bersahaja
Nyaman, aku ingin lama

Kau ibarat syair
Menulismu aku lega
Kupendam, aku tersiksa
Maka biarkan jemariku berkata
Kau syair yang masih bermakna

Kini…
Begitu sulit menduga
Apakah yang datang cinta?
Setelah semua berbeda
Belum kutemukan rasa yang sama


BULAN

Bulan…
Walau ada yg berkata kalau kau hanya terlihat indah di kejauhan
Aku tak perduli
Bagiku, kaulah sang pemberi sejati
Kaulah ciptaan Tuhan yang sanggup memberi sebanyak apapun yang kau terima
Kau tak pernah korupsi

Bulan…
Kadang kau terlihat sabit, kecil, hingga besar menjadi purnama
Itulah tanda-tanda waktu bagiku
Bagi kemampuan diriku untuk membaca
Bahwa aku pernah tiada, terlahir, dan dewasa
Hingga nanti aku tiada
Terkubur di perut bumi

Oh Bulan…
Adakah aku belajar darimu?
Ketika kau tak mampu menjadi sumber pemberi, kau pantulkan segala pemberian
Adakah kuambil pelajaran?
Ketika aku tak mampu menyinari, maka jadilah perantara cahaya
Ketika di sekitar membutuhkan
Adakah keseriusan untuk merasakan?

Malam ini…
Mengingatkanku pada bulan penuh di kotaku
Pada purnama bertahun silam
Aku berkaca dari makhluk ciptaan
Bahwa tak sepenuh apa yg bisa kuberi dari apapun yg kuterima
Bukan pula sosok yang mampu menyajikan kesempurnaan
Bahkan aku tak mampu menerjemahkan segala yang datang

Aku hanya sanggup melalui pendekatan
Bahwa pada penampakan diam, perhatian harus tetap tercurah
Meskipun hanya bisa memberi dari kejauhan
Kuharap bait-bait dapat menenangkan

Oh bulan…
Dengan sinar dan keindahanmu
Kau undang kembali jemariku
Untuk mengasah mata hati
Bahwa pada penciptaanmu kutemukan Tuhan
Dia yang hanya satu manjadikan keteraturan


Kepada Hati Nan Gundah

Kepada dinding-dinding kamar yang hening
Secangkir kopi yang hitam
Sungguh malam ini kau ditundukkan

Adakah usahamu untuk membaca
Berapakah harga atas kenyamanan
Inikah perumpamaan kegalauan
Seberapa mahal hingga kau bisa tenang
Menangislah jika diperlukan
Jangan kau pendam asa di kedalaman

Jalan lain, bukan jalan Tuhan
Kau tuju demi kedamaian
Kau tahu itu sesaat
Lalu, mengapa tetap menghamba
Kau puja bak berhala
Imitasi fatamorgana

Hanya tinggal kita bertiga
Aku, Kau dan Tuhan
Siapa lagi yang kau harapkan?
Atau kau lupa tentang keabadian?
Bahwa dunia hanya titipan

Kepada hati nan gundah
Kembalilah ke tempat yang tenang
Pelabuhan hakiki yang kau jelang


Kaulah Itu Perempuan

Kaulah itu perempuan
Dipangkuanmu diamanahkan tunas-tunas insan
Ditanganmu madrasah diasuhkan
Disampingmu lelaki bertumpuan

Kaukah itu perempuan?
Di diammu hadirkan pertanyaan
Di ucapmu aku menebak perasaan

Kaulah itu perempuan
Makhluk Tuhan berperawakan tak jantan
Kaulah selembut-lembut insan

Benar…
Kaulah itu
Yang pernah kutemukan dalam bait-bait kerahasiaan
Kaulah itu perempuan
Jika tak kuat iman, aku bisa kesetanan

Kaulah itu perempuan
Kuatku dan lembutmu bukanlah berlawanan
Tetapi saling berhimpunan
Ibarat jarum dan kain, terajutlah sulaman

Kaulah itu perempuan
Emansipasi tak harus membuatmu berubah haluan

Kaulah selendang
Kaulah kerudung
Kaulah jilbab
Kaulah burkak

Kaulah itu perempuan
Kaulah senyaman keindahan


SENJA DI LEBAK ANYAR

Kuterawang untaian makna
Akan maksud kembara bernaung
Dikala sang mentari berpamitan
Kami bersenandung menyambut malam

Kini, tak lagi terasa
Sebulan waktu kan berlalu
Tibalah masanya bersegera
Beranjak kaki dan tangan kita
Meninggalkan desa tercinta

Lebak anyar…
Banyak cerita yang tergores
Banyak pula makna yang tertoreh

Lebak anyar…
Kau siratkan pesan sahaja
Tertunduklah ego kita
Akan indahnya kebersamaan
Kau eratkan ikatan
Berharap tak ada perpisahan

Masa…
Senja kini dihadapan
Kau bawa kelana di penghujung
Sendu, haru, suka yang tak terelakkan
Usah kiranya menjadi beban
Langkah-langkah yang ditapakkan
Tak dapat kuhapus ingatan
Maka tak salah jika dikenang

Dini…
Mungkin terlalu cepat masa bersama
Waktu yang tersisa kubangun rasa

Lebak anyar…
Izinkan kami kembali berjumpa
Menyinggahimu dan bersua


SAJAK SI ANAK SULUNG

Kini tak lagi seumur jagung
Padi pun menguning di penuaian
Si anak berkisah di pulau terpisah
Si Sulung berkiprah di lain tanah

Badan menjulang perawakan
Sudah besar, tentunya harus tegar
Belajar mengerti kehidupan
Menjalani dan bersabar

Aiiih… mengapalah jua kau risaukan
Apakah amanat anak sulung membuatmu dalam kekalutan?
Atau karena wanita idaman yang tak kunjung datang? hingga kau berpantang kesepian
Adakah insan yang memperolokkan?
Atau karena bantal guling tak sanggup menahan? hingga kau takut mati lajang
Berkiblatlah ke tuntunan
Berkiprah dulu dan berprestasi
Karena jodoh Allah yang kasi

Menimba ilmu, menumpang tanah
Rindu Emak, rindu Ayah
Kadang rindu kampong halaman
Si Sulung si anak kampong
Bersilat di glamornya peradaban
Bertahan bersesuaian amanah

Kilauan rayu kota
Membias mencaci identitas
Seakan dipaksa sama, menggonggongi jati diri
Jika tak kuat berpegang diri
Alamat hanyut ke hilir rugi
Maka peganglah kemudi
Jaga bahtera tetap haluan
Kembangkan layar keteguhan
Hingga menuju pelabuhan hakiki

Si Sulung si anak kampong
Si Sulung di perantauan
Kini di ujung ucap
Si Sulung bermohon dan bermunajat
Berharap kedua orang tuanya, dan adik-adiknya tetap sehat
Dalam limpahan karunia Allah pemberi nikmat


Kita Tak Boleh Dikalahkan Takut

Bergeming dalam tanya-tanya
Berbuat atau tidak
Sekarang apa belum
Keberanian dipengaduan

Si Hitam menyurutkan niat
Sang Putih memompa semangat
Perseteruan Hitam dan Putih
Berkecamuk tak pernah letih

Ingin berarti…
Takut dikoreksi
Mau melangkah…
Takut salah kaprah
Tidak punya nyali
Tak berani diri
Masih sebatas mimpi-mimpi

Hanya diam…
Meratap dalam kelam
Menunda angan-angan
Mencumbui penyesalan
Mencari pelampiasan
Mengomentari tayangan-tayangan
Bak kritikus yang berpengalaman

Kini di rentang asa
Masih dalam tanya-tanya
Berharap sempurna
Tapi tak berbuat apa-apa

Takut…
Alasan yang disuguhkan
Menjadi pembenaran
Seakan diadili ketakutan
Dikalahkan ketakutan…
Dikendalikan rasa takut
Menimbulkan akut
Menjadi manusia penakut

Keberanian…
Bukan tanpa rasa takut
Tapi menundukkan takut
Mengelola rasa takut…

Berani…
Kadang berapi-api
Bukan untuk sombong diri,
Janganlah riya dan menjengkali
Karena ada yang lebih berarti
Maka beranjaklah tangan dan kaki

Takut…
Maka takutlah pada Tuhan
Takut akan kesombongan
Jangan takut untuk berbuat

Berani…
Maka acungkan jari
Awali perbuatan
Renungi kesalahan
Lanjutkan perjalanan


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.